Dede Saroji

Sekali Layar Terkembang Pantang Biduk Surut Ke Pantai (Part 1)

Juli 26, 2017 Mas Fani 0 Comments

Dengan berbekal Ijazah dari Sekolah teknik tingkat menengah ( STM ) harapan terbentang ingin menjadi tehnisi, seperti di Pabrik pesawat terbang “ NURTANIO” sekarang IPTN di bandung, hanya melamar melalui Surat lamaran yang di titipkan lewat rekan yang sudah terlebih dahulu diterima disana walau kita menyadari bahwa syarat nilai ijazah paling rendah 7,0 sedangkan ia hanya rata rata kurang dari tujuh, namun dengan tekad yang bulat dengan dimotipasi pepatah mengatakan “ jangan kalah sebelum perang “ ia tetap optimis dapat diterima di pabrik pesawat terbang itu, sekian lama ditunggu-tunggu lamaran yang diajukan balasan/panggilan tidak kunjung datang dalam hati bertanya apakah lamaran itu ditolak karena tidak memenuhi syarat , apa memang belum sempat di balas.
Selama menunggu balasan surat lamaran kerja dari manapun tetap ia mengajukan lamaran kerja dimana saja yang ia kehendaki dengan harapan laksana menjaring atau memancing ikan apa saja yang mungkin bisa tersangkut dimana saja ia dapat bekerja dengan harapan dapat meringankan beban biaya hidup orang tua. Termasuk diantaranya di pabrik baja terbesar di Indonesia dengan menenteng Stop map dan beberapa stel pakaian ganti yang tersimpan dalam tas sekolah  dan uang saku yang hanya cukup untuk ongkos perjalanan kendaran bertekad berangkat ke kota Cilegon Banten.
  “KRAKATAU STEEL” Pabrik Baja Serang Banten, yang di tuju tetapi dimana tempat untuk transit masih belum ada gambaran, keputusan akhirnya jatuh ke Rumah Allah yang gratis dapat digunakan untuk permohonan kepada sang pencipta , juga sebagai penentu dan pemberi keselamatan, penentu dan pemberi tahta jabatan yaitu Mesjid Agung Simpang Lima Cilegon.
Test demi test di lakukan dari mulai test tertulis , Psykotes dilalui di Kratau Steel, sehingga memerlukan waktu beberapa hari mengakibatkan menipisnya bahkan habisnya uang saku/ bekal yang dibawa , dengan habisnya uang untukmakan sedangkan pelaksanaan seleksi belum selesai dengan sangat terpaksa masuk kawasan pabrik yang cukup jauh yang mestinya harus dilewati dengan kendaraan angkot tetapi ia lewati denganjalan kaki, termasuk untuk makan sehari-hari dengan terpaksa mencari kerja di perumahan seagai pembantu rumah tangga, kebetulan pada waktu itu ada satu keluargayangpenghuni sudah pada tua dan jauh dari anaknya, dengan perasaan malu dan bingun terkalahkan dengan kebutuhan perut akhirnya ia bekerja sebelum berangkat test dan sesudah selesai test, dengan  imbalan makan alakadarnya dan uang jajan sebesar Rp.500 ( Lima ratus rupiah )
Selama satu minggu pelaksanaan test telah dilewati dengan hasil, nasib baik belum berpihak padanya  alias gagal dalam test, perasaan yang kecewa dan malu terhadap orangtua berkecamuk dipikiranya, lebih-lebih saat itu akhir di bulan rojab atau besok pagi sudah masuk bulan puasa dan nanti malam sudah mulai shalat taraweh makan sahur perdana, padahal setiap tahunya kalau di rumah menjelang awal romadhon makanan yang di sediakan walaupun orang tidak mampu mesti menyidiakan makan yang terbaik untuk menghormati bulan romadhon dan memanjakan anak-anaknya untuk menyenangi pelaksanan ibadah puasa sedang keadan ia dalam kesulitan jangankan maknan yang enak, uang sepeserpun tidak punya, dorongan ingin pulang  sangat kuat tapi apa daya uangpun tak punya dengan mengulur waktu untuk berpikir dan mengambil keputusan apakah mau minta tolong Polisi untuk dititipkan di angkutan ke Kotanya apa dia  minta tolong untuk disusul temanya, saat itu menjelang pelaksanaan shalat taraweh pertama di mesjid Agung Simpanglima Cilegon, di sela-sela pelaksanaan shalat taraweh ku panjatkan do’a kehadirat Illahi robbi yang diiringi uraian linangan air mata yang menetes tanpa terarasa merenungi nasib kehidupan yang penuh kesulitan di alam kegemerlapan  kehidupan orang kaya disekelilinginya “ Ya Allah Berikanlah kekuatan dan kesalematan kepada kami, berikanlah petunjuk kejalan yang benar yang sesuai dengan ridomu, berikanlah jalan keluar untuk bias pulang  Robbana atina fiddunya khasanah, wafil akhiroti khasanah wakina ada banar.walhamdulillahirobbil alamin. ……..Amien, waktu terus bergulir tiba saatnya waktu sahur, teriakan ajakan melaksanakan ibadah sahur bersahut-sahutan di mesjid-mesjid membangunkan dikelalapan tidurku, dengan perasaan malas bangun ia berkata buat apa bangun, bangunpun apa yang akan dimakan karena tidak punya uang  makananpun tiada, Allah maha pemberi dan maha pengasih, disuasana kemalasan bangun pk.03.00 Wib tersa ada tangan seseorang  yang membangunkan untuk sahur dan memberinya sebungkus supermi Dengan ucapan terima kasih diterima sebungkus supermi dan saat itu juga mencari dan meminjam gelas minum ukuran besar untuk menyeduh supermi di gelas itu diawali dengan do’a “ Nawaetu saumagodin an adai pardo sahri romadoni hadihissanati pardo lillahi ta’ala amin “ mulailah menyantap supermi dengan lahapnya karena sehari tadi tidak menemukan makanan  yang diseduh dalam gelas yang sudah barang tentu rasanya sangan asin karena tidak sesuai takaran air dengan bumbu yang sudah ada didalamnya.

    Waktu menunjukan pk. 10.00 Wib, dorongan ingin pulang ke kota kelahiran yang dtinggalkan beberapa hari, semakin kuat ditambah saat itu hari pertama bulan puasa yang biasanya suasana sangat beda dengan bulan-bulan lain , tetapi bekal yang sudah tidak ada, walaupun untuk ongkos kendaraan hanya sebesar Rp. 750,- rsanya pingin nangis sekuat-kuatnya karena selama ini belum pernah pergi jauh dari orang tua dan tidak punya nyali berpetualang.

You Might Also Like

0 komentar: