Sekali Layar Terkembang Pantang Biduk Surut Ke Pantai (Part 1)
Dengan berbekal Ijazah dari
Sekolah teknik tingkat menengah ( STM ) harapan terbentang ingin menjadi
tehnisi, seperti di Pabrik pesawat terbang “ NURTANIO” sekarang IPTN di
bandung, hanya melamar melalui Surat lamaran yang di titipkan lewat rekan yang
sudah terlebih dahulu diterima disana walau kita menyadari bahwa syarat nilai
ijazah paling rendah 7,0 sedangkan ia hanya rata rata kurang dari tujuh, namun
dengan tekad yang bulat dengan dimotipasi pepatah mengatakan “ jangan kalah
sebelum perang “ ia tetap optimis dapat diterima di pabrik pesawat terbang itu,
sekian lama ditunggu-tunggu lamaran yang diajukan balasan/panggilan tidak
kunjung datang dalam hati bertanya apakah lamaran itu ditolak karena tidak
memenuhi syarat , apa memang belum sempat di balas.
Selama menunggu balasan surat lamaran kerja dari
manapun tetap ia mengajukan lamaran kerja dimana saja yang ia kehendaki dengan
harapan laksana menjaring atau memancing ikan apa saja yang mungkin bisa
tersangkut dimana saja ia dapat bekerja dengan harapan dapat meringankan beban
biaya hidup orang tua. Termasuk diantaranya di pabrik baja terbesar di Indonesia dengan menenteng Stop map dan beberapa
stel pakaian ganti yang tersimpan dalam tas sekolah dan uang saku yang hanya cukup untuk ongkos
perjalanan kendaran bertekad berangkat ke kota
Cilegon Banten.
“KRAKATAU
STEEL” Pabrik Baja Serang Banten, yang di tuju tetapi dimana tempat untuk
transit masih belum ada gambaran, keputusan akhirnya jatuh ke Rumah Allah yang
gratis dapat digunakan untuk permohonan kepada sang pencipta , juga sebagai
penentu dan pemberi keselamatan, penentu dan pemberi tahta jabatan yaitu Mesjid
Agung Simpang Lima Cilegon.
Test demi test di lakukan
dari mulai test tertulis , Psykotes dilalui di Kratau Steel, sehingga
memerlukan waktu beberapa hari mengakibatkan menipisnya bahkan habisnya uang
saku/ bekal yang dibawa , dengan habisnya uang untukmakan sedangkan pelaksanaan
seleksi belum selesai dengan sangat terpaksa masuk kawasan pabrik yang cukup
jauh yang mestinya harus dilewati dengan kendaraan angkot tetapi ia lewati
denganjalan kaki, termasuk untuk makan sehari-hari dengan terpaksa mencari
kerja di perumahan seagai pembantu rumah tangga, kebetulan pada waktu itu ada
satu keluargayangpenghuni sudah pada tua dan jauh dari anaknya, dengan perasaan
malu dan bingun terkalahkan dengan kebutuhan perut akhirnya ia bekerja sebelum
berangkat test dan sesudah selesai test, dengan
imbalan makan alakadarnya dan uang jajan sebesar Rp.500 ( Lima ratus
rupiah )
Selama satu minggu
pelaksanaan test telah dilewati dengan hasil, nasib baik belum berpihak padanya
alias gagal dalam test, perasaan yang
kecewa dan malu terhadap orangtua berkecamuk dipikiranya, lebih-lebih saat itu
akhir di bulan rojab atau besok pagi sudah masuk bulan puasa dan nanti malam
sudah mulai shalat taraweh makan sahur perdana, padahal setiap tahunya kalau di
rumah menjelang awal romadhon makanan yang di sediakan walaupun orang tidak
mampu mesti menyidiakan makan yang terbaik untuk menghormati bulan romadhon dan
memanjakan anak-anaknya untuk menyenangi pelaksanan ibadah puasa sedang keadan
ia dalam kesulitan jangankan maknan yang enak, uang sepeserpun tidak punya,
dorongan ingin pulang sangat kuat tapi
apa daya uangpun tak punya dengan mengulur waktu untuk berpikir dan mengambil
keputusan apakah mau minta tolong Polisi untuk dititipkan di angkutan ke
Kotanya apa dia minta tolong untuk
disusul temanya, saat itu menjelang pelaksanaan shalat taraweh pertama di
mesjid Agung Simpanglima Cilegon, di sela-sela pelaksanaan shalat taraweh ku
panjatkan do’a kehadirat Illahi robbi yang diiringi uraian linangan air mata
yang menetes tanpa terarasa merenungi nasib kehidupan yang penuh kesulitan di
alam kegemerlapan kehidupan orang kaya
disekelilinginya “ Ya Allah Berikanlah kekuatan dan kesalematan kepada kami,
berikanlah petunjuk kejalan yang benar yang sesuai dengan ridomu, berikanlah
jalan keluar untuk bias pulang Robbana
atina fiddunya khasanah, wafil akhiroti khasanah wakina ada
banar.walhamdulillahirobbil alamin. ……..Amien, waktu terus bergulir tiba
saatnya waktu sahur, teriakan ajakan melaksanakan ibadah sahur bersahut-sahutan
di mesjid-mesjid membangunkan dikelalapan tidurku, dengan perasaan malas bangun
ia berkata buat apa bangun, bangunpun apa yang akan dimakan karena tidak punya
uang makananpun tiada, Allah maha
pemberi dan maha pengasih, disuasana kemalasan bangun pk.03.00 Wib tersa ada
tangan seseorang yang membangunkan untuk
sahur dan memberinya sebungkus supermi Dengan ucapan terima kasih diterima
sebungkus supermi dan saat itu juga mencari dan meminjam gelas minum ukuran
besar untuk menyeduh supermi di gelas itu diawali dengan do’a “ Nawaetu saumagodin
an adai pardo sahri romadoni hadihissanati pardo lillahi ta’ala amin “ mulailah
menyantap supermi dengan lahapnya karena sehari tadi tidak menemukan
makanan yang diseduh dalam gelas yang
sudah barang tentu rasanya sangan asin karena tidak sesuai takaran air dengan
bumbu yang sudah ada didalamnya.
Waktu menunjukan pk. 10.00 Wib, dorongan ingin
pulang ke kota kelahiran yang dtinggalkan beberapa hari, semakin kuat ditambah
saat itu hari pertama bulan puasa yang biasanya suasana sangat beda dengan
bulan-bulan lain , tetapi bekal yang sudah tidak ada, walaupun untuk ongkos
kendaraan hanya sebesar Rp. 750,- rsanya pingin nangis sekuat-kuatnya karena
selama ini belum pernah pergi jauh dari orang tua dan tidak punya nyali
berpetualang.



